oleh

Modus BLT, Oknum Lurah di Matim Setubuhi Istri Orang Hingga Hamil

FLORESNEWS.id, Manggarai Timur–Dengan Modus mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), Lurah Satar Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga menyetubuhi istri orang hingga hamil.

Atas kejadian tersebut, Suami korban, Gregorius Matu melaporkan kasus yang menimpa istrinya itu di Kepolisian Resort (Polres) Manggarai Timur.

Ditemui Flores News, Kamis (2/9/2021), Gregorius menceritakan kronologis kejadian.

“Tanggal 13 januari 2021 sekitar Pukul 19.00 WITA, Bapak Lurah Satar Peot menelpon istri saya Lenilia Vin untuk menerima Surat Keterangan Ahli Waris dari Almarhumah Bibiana Mimi sebagai calon penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Covid 19. Saat itu istri saya menolak untuk pergi karena sudah di luar jam kantor.”

“Namun, Bapak Lurah menyuruh salah satu warga untuk menjemput istri saya di rumah. Istri sayapun pergi bersama warga itu dengan tujuan menerima surat keterangan ahli waris seperti yang diperintahkan Pak Lurah. Sesampainya di TKP, warga yang menjemput istri saya langsung mematikan lampu dan keluar dari rumah. Saat itu, Pak Lurah melancarkan aksinya. Istri saya disetubuhi disitu,” kata Gregorius sambil meneteskan air mata.

Ia mengakui, saat kejadian berlangsung, dirinya berada di Kalimantan untuk mencari kerja. “Saya baru mengetahui peristiwa itu tanggal 23 Juli 2021 kemarin saat istri saya menelepon saya,” ucap Ayah Tiga anak itu.

Pada malam harinya, terang Gregorius, pihak keluarga saya ingin menghantar istri saya ke rumah Pak Lurah untuk meminta pertanggungjawaban. Namun karena ada orang tua yang ingin memediasi persoalan ini, akhirnya kami terima dan disepakati beberapa hal antara lain,

1. Pak Lurah bersedia didenda secara adat sebesar Rp.30.000.000 (Tiga Puluh Juta Rupiah)

2. Pihak kami bersedia menyiapkan satu ekor babi pada saat acara perdamaian dilakukan

3. Waktu acara denda adat dilakukan setelah saya pulang ke Manggarai.

“Tanggal 14 Agustus lalu saya tiba di Kampung. Keesokan harinya, yaitu tanggal 15 Agustus 2021 keluarga dari Pak Lurah  kembali datang ke rumah kami untuk melaksanakan  acara denda adat yang sudah disepakati sebelumnya. Mereka membawa uang sebesar Rp. 15.000.000 (Lima Belas Juta Rupiah).”

“Kami menolak uang itu karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal yaitu uang denda sebesar Rp. 30.000.000 (Tiga Puluh Juta Rupiah). Akhirnya Pada hari itu setelah berdiskusi disepakati bahwa, Pak Lurah akan datang lagi paling lama pada tanggal 31 Agustus 2021 dengan membawa uang denda adat yang sudah disepakati,” pungkasnya.

Ia menuturkan, keluarga besar merasa jengkel dan tertipu karena Lurah mengingkari janji yang sudah disepakati bersama orang tua dan para tokoh adat. “Dia tidak pernah datang kemari untuk menepati kesepakatan yang terlah dibuat,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Satar Peot, SJ enggan memberikan komentar saat Flores News melakukan konfirmasi Via WhatsApp.

Namun terkait laporan korban atas dirinya, SJ mengatakan bahwa Pihak Kepolisian sudah menelepon dirinya agar mengurus kasus itu secara kekeluargaan.

“Sudah ada kesepakatan tadi, mau lanjut secara keluarga. Pihak Reskrim ada telepon,” ucap SJ singkat. (NJ)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed