oleh

Hukum Timpang di Mabar dan Tangisan Tiga Wanita di Istana Keuskupan Ruteng

FLORESNEWS.id, Manggarai– Seorang wanita paruh baya dan dua orang ibu muda dengan raut wajah kusam, terlihat duduk di depan Istana Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Senin (20/9/2021) pagi. Mereka adalah Adelheit Manur (48) istri dari Stanis Ngambut, Mersilinda Jelita (31) istri dari Isidorus Ata dan Serlina Tuti (35) istri  dari Benekdiktus Malu.

Kedatangan tiga wanita itu hendak menemui Mgr. Siprianus Hormat. Mereka mengadu dan meminta pertolongan kepada Mgr. Sipri untuk membantu membebaskan suami mereka yang ditahan Polres Mabar, pada Jumat (2/7/2021) lalu. Tiga wanita itu berkeyakinan bahwa suami mereka tak bersalah.

Kepada Flores News, Adelheit Manur istri dari Stanis Ngambut, sambil menetes air mata menceritakan, Suami dan tiga orang kerabatnya berangkat Labuan Bajo pada 29 Juni 2021 lalu untuk bekerja dan mendapatkan upah yang sedikit lebih besar dan bukan perkara atau sengketa.

Kerja yang dijanjikan adalah membersihkan rumput dan menebang kayu. Upahnya Rp75.000,00 per hari, ditanggung makan minum dan tempat tinggal selama bekerja. Upah itu sedikit lebih besar dari Upah di Ka Kampung Dimpong yang hanya Rp50.000,00 per hari.

Adel menceritakan, berdasarkan pengakuan suaminya, ketika sampai di Golo Mori pada 1 Juli lalu, suami mereka dan belasan orang lain serta pemilik kebun mulai bekerja. Namun ketika sudah kerja setengah hari dan hendak makan siang, mereka dikagetkan dengan informasi kedatangan polisi. Benar saja, beberapa polisi itu datang dan mengbil foto para pekerja itu. Beberapa saat kemudian tiba-tiba datang mobil “keranjang” milik kepolisian dan menangakap mereka.

“Waktu itu mereka sempat menjawab pertanyaan polisi. Bahwa mereka datang untuk mencari nafkah. Bekerja untuk mendapatkan harian. Sama sekali bukan untuk urusan lain, apakah itu sengketa tanah. Itu mereka tidak tau,” tutur Wanita 5 anak itu.

Adel menjelaskan, ketika mendapatkan informasi suaminnya ditangkap, keluarga dan anak-anak kaget dan sangat sedih. Mereka bingung kejahatan apa yang diperbuat sehingga ditangkap dan ditahan, pada hal baru 1 hari bekerja.

Adel merasa menyesal dan sangat sedih. Harapan agar sang suami mendapatkan upah lebih besar di Mabar ternyata berujung pada masalah hukum yang ribet dan serius.

“Sekarang mereka ditahan dan kami kerja sendiri untuk mengurus anak-anak di rumah. Mereka datang ke Labuan Bajo ke Golo Mori untuk bekerja membersihkan rumput dan menebang kayu di sana tidak ada di benak mereka bahwa ada masalah dan mereka akan ditahan,” kata Adel dengan nada sedu.

Sambil berderai air mata Adel menceritakan, paling menyakitkan, selain kondisi ekonomi, dampak dari penahanan terhadap suaminnya sangat mengganggu psikologi keluarga terutama anak-anak. Anak-anak bahkan sering diganggu dan dibuly oleh teman-teman sepermainan mereka.

Sementara ia sendiri, terbebani oleh biaya kehidupan sehari-hari dan biaya anak-anak yang masih berada di bangku sekolah. Kondisi itu yang membuatnya pikirannya kacau dan makin stres.

“Kami ini orang susah. Sementara ada anak kami ada yang sedang dalam bangku kuliah. Anak saya sendiri satu orang sedang bersekolah di Makassar mengambil jurusan ilmu keperawatan biayanya cukup besar dan saya tidak tahu harus bagaimana sementara suami ditahan,” kata Adel.

Datang, Berharap dan Meminta Bantuan Uskup.

Sebagai orang kecil dan tidak paham hukum Adel mengaku bingung harus berbuat apa. Namun setelah mendapat ajakan untuk datang ke Istana keuskupan, ia dan istri dari para buru lain dari jadi bersemangat. Mgr. Sipri sangat diharapkan membantu mereka untuk ikut ambil bagian menyelesaikan persoalan ini.

“Kami datang ke sini untuk meminta bantuan Bapa Uskup. Bagaimana solusi terbaik terhadap persoalan yang keluarga kami alami. Kami juga minta agar bapa uskup mendoakan supaya kami kuat dan juga suami kami ini cepat dibebaskan. Kami percaya dengan kemuliaan Bapa Uskup bisa menolong kami melalui doa dan usahanya,” kata Adel.

“Kami menaru harapan agar ada tindakan yang akan dilakukan Bapa Uskup. Mungkin lewat uluran tangan kasih Bapa Uskup bisa menolong suami kami yang sedang ditahan. Sehingga masalah yang melibatkan keluarga kami di sana itu dapat diselesaikan,” kata Mersilinda Jelita, Istri dari Isidorus Ata.

Suami Tidak Bersalah

Mersilinda Jelita kemudian dengan mengatakan, suami mereka tidak bersalah. Mereka hanya bekerja demi sesuap nasi. Saat diajak ke Golo Mori, mereka juga tidak tahu bahwa tanah yang hendak dikerjakan masih sengketa. Sehingga polisi menurutnya gegabah dan hanya ingin menindas suami mereka.

“Mereka ditahan itu tanpa penyebab atau tanpa berbuat sesuatu yang salah. Kecuali kalau awalnya ada permasalahan atau misalnya tanah itu milik kami. Lalu kami yang bermasalah. Suami itu itu ke sana untuk mencari makan pak bukan perkara,” katanya sambil menangis.

Ibu tiga anak itu meminta kepolisian agar mengasihani keluargannya. Ia bahkan meminta, kalau kepolisian punya kepentingan lain dalam sengketa tanah itu tolong jangan melibatkan suami mereka. Sebagai bukti bahwa mereka tidak bersama adalah penolakan berkas perkara oleh Kejaksaan Negeri Manggarai Barat.

“Kami mendapatkan informasi bahwa Jaksa menolak berkas perkara mereka, itu artinya karena memang suami kami tidak bersalah. Lalu kenapa masih ditahan. Kalau misalnya punya kepentingan lain kolong jangan bawa-bwa suami kami untuk menjadi korban. Tolong bebaskan suami kami,” katanya.

Sementara Serlina Tuti, Istri dari Benekdiktus Malu mengataka,  penahanan terhadap suaminya adalah bentuk penghinaan kepada orang kecil. Polisi dianggapnya sengaja menghalangi suaminya untuk bekerja di tempat lain, pada hal suaminya hanya orang Kecil.

“Saya minta tolong kepada Bapa Uskup agar lewat doa dan usahanya menggugah hati dari para polisi yang ada disana terutama Kapolres Manggarai Barat. Kami sebenarnya tidak bisa datang ke sini karena kami sangat miskin. Untuk transportasi ke sini susah, tapi ini demi suami kami agar mereka kembali keluar dan beraktifitas seperti biasa dan mencari nafkah,” tandasnya.

Selain ketiganya, datang juga belasan ibu-ibu dari Desa Popo, Kecamatan Satarmese, yang suaminya juga ikut ditahan dalam kasus sengketa tanah di Golo Mori. Belasan ibu-ibu itu selanjutnya memasuki salah satu ruangan dan bertemu seorang romo di Keuskupan Ruteng. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Keuskupan Ruteng dalam menanggapi kedatangan dari belasan ibu-ibu tersebut.

Ketimpangan Penegakan Hukum

Sebagai informasi, penetapan tersangka oleh Kepolisian Resort (Polres) Manggarai Barat (Mabar) terhadap tiga orang aktor intelektual dan 18 orang pekerja di Desa Golomori pada (4/7) lalu telah menyita perhatian banyak pihak, termasuk praktisi hukum karena dinilai sebagai sebuah kekeliruan penegakan hukum.

Salah satunya Praktktisi hukum, Siprianus Edi Hardum, S.H., M.H. Menurut pengacara dari kantor hukum Edi Hardum and patners ini, persoalan yang terjadi di Desa Golomori murni merupakan kasus perdata yang seharusnya diselesaikan melalui gugatan perdata di pengadilan.

Edi Hardum mengatakan, jika dipaksakan menjadi kasus pidana, maka pasal yang cocok untuk dikenakan semestinya pasal 53 ayat (1) KUHP yang berbunyi : Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri.

“Jadi tindak pidana yang dilakukan adalah tindak pidana percobaan yang belum selesai. Nah kita analisa, apakah mereka waktu itu sudah melakukan tindak pidana. Tindak pidana apa yang mereka lakukan, apakah tindak pidana penyerobotan. Kalau tindak pidana penyerobotan, ada nggak bukti dari polisi bahwa itu tanah punya pelapor, baik berupa sertifikat, akte jual beli atau pun girik. Kalau itu tidak ada, itu tidak bisa dikatakan penyerobotan,” ungkap Edi Hardum. (Arlan 05/FN).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. maaf sebelumnya…saya tidak tau pasti bagai mana kronologis permasalahannya. Tetapi berdasarkan apa yang saya baca, menurut saya hal yang perlu dilakukan saat ini adalah pengakuan dari orang yang merekrut tenaga kerja. Pengakuan tersebut berisi “apakah pad saat merekrut perekrut memberitahukan informasi mengenai tanh sengket kepada para calon pekerja ataukah hanya sekadar memberitahukan pekerjaan yang akan dilakukan saja”. Setidaknya hal ini akan membantu (jikalau timbangan pihak berwajib tidak rusak)

News Feed