oleh

Pekerja Proyek Mengeluh HOK Belum Dibayar, Kontraktor: Itu Urusan Pengawas Dengan Kepala Tukang

FLORESNEWS.id, Manggarai Timur-Pekerja proyek rehabilitasi dan renovasi sarana dan prasarana di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Bamo, Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur mengeluh lantaran Hari Orang Kerja (HOK) mereka tidak dibayar sesuai pada perjanjian awal.

Pengeluhan itu disampaikan Remigius Jaik selaku kepala tukang mes guru. Dirinya mengaku, dalam Perjanjian awal, mereka dijanjikan setiap dua minggu akan menerima upah. Namun, setelah pekerjaan itu hampir selesai, upah yang mereka terima tidak seperti yang disepakati.

“Saya kepala tukang untuk kerja mes guru sebanyak satu unit, dan kontrak yang disepakati sebesar 40 juta rupiah, dengan hitungan harian sebesar 70 ribu rupiah per orang untuk 15 orang tukang. Dalam Perjanjian awal dengan pengawas proyek, uang akan dicairkan setiap dua minggu. Namun, kenyataannya tidak seperti itu,” jelas Remigius, Kamis (30/9/2021).

Untuk membayar sisa upah tukang, terpaksa ia harus pinjam di salah satu Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Wilayah Kabupaten Manggarai Timur.

“Upah yang saya terima baru Rp. 27.900.000 (dua puluh tujuh juta sembilan ratus ribu rupiah). Untuk menutupi upah tukang, terpaksa saya harus pinjam di Koperasi sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah),” terangnya.

Hal serupa disampaikan Venti, salah seorang tukang yang mengerjakan ruangan belajar sebanyak dua lokal. Ia mengaku, upah ia terima saat ini tidak sesuai pada kesepakatan awal.

“Pekerjaan sudah selesai, tapi uang yang saya terima baru Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah), dan lagi Rp. 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah) yang belum dibayar,” ucap Venti.

Penjelasan Pihak PT. Bintang Pratama Konstruksi

Untuk menjawab segala keluhan yang disampaikan kedua narasumber ini, Flores News berusaha menghubungi Maksi selaku pengawas proyek PT. Bintang Pratama Konstruksi melalui telfon.

Ditegaskannya bahwa ia tidak pernah membuat kesepakatan terkait pencairan upah kerja setiap dua minggu.

“Tidak ada kesepakatan seperti itu. Kita sistemnya opname yang artinya, jika sudah dinyatakan layak sesuai volume dan kualitas oleh pihak yang melakukan pemeriksaan, maka akan ada pembayaran,” tegas Maksi.

Ketika ditanya terkait tersendatnya pencairan upah pekerja, menurutnya, itu dikarenakan progres pekerjaan dari sembilan lokasi lainnya tidak begitu bagus.

“Satu paket ini kan ada 10 lokasi. Kami yang di SDI Bamo progresnya sudah 90%, sedangkan lokasi lainnya belum sampai tahap itu. Persoalan itu yang menyebabkan dana belum dicairkan, dan terpaksa untuk bayar tukang saya juga harus berhutang,” ungkapnya.

Selain itu, media ini juga menghubungi Frids A. Benggu, Direktur PT. Bintang Pratama Konstruksi melalui telepon. Menurutnya, itu urusan antara kepala tukang dan pengawas proyek.

“Itu kesepakatan mereka dengan Maksi. Kecuali proyek itu sudah Penyerahan dan tidak ada pembayaran, itu baru urusan dengan kami. Dan saya tidak tahu kontrak antara mereka (Maksi dengan kepala tukang). Saya juga tetap akan koordinasi dengan pa maksi terkait pembayaran upah tukang,” jelasnya.

Perlu diketahui dalam paket proyek ini, selain SDI Bamo, ada 9 lokasi lainnya di wilayah kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai Barat, yaitu SDI Cambire Bendera, SDI Marombok, SDI Soknar, SDI Wae Mege, SDI Wae Nakeng, SDI Ajang, SDI Mesi, SDI Sopang Rajong dan SD Benteng Sipi. Dan nilai kontrak secara keseluruhan sebesar Rp. 20.826.999.000,00 (dua puluh miliar delapan ratus dua puluh enam juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu). (Risno Ando)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed