oleh

Desa Wisata di Manggarai Raya Dalam Genggaman Kapitalisme

-Opini-260 views

Oleh: Nardi Jaya

“Sebenarnya hanya kelas pekerja (proletariat) yang menghasilkan kesejahteraan melalui kekuatan buruhnya. Sedangkan kaum kapitalis memberikan kontribusinya semata-mata dari posisinya sebagai pemilik sarana produksi. Ketidakmerataan distribusi kepemilikan sarana produksi adalah hasil dari suatu proses historis dimana petani kehilangan akses lahan dan dipaksa untuk masuk ke kota dan menjadi pekerja. Di sisi yang lain, Negara berperan penting dalam semua pendekatan pembangunan. Peran tersebut misalnya menyiapkan sistem regulasi, hukum dan aturan agar pasar dapat bekerja secara lebih efisien, ataupun pemerintah bisa lebih intervensionis dalam kehidupan ekonomi kemasyarakatan.” (Karl Marx)

=================================

FLORESNEWS.id, Opini–Program wisata desa di Manggarai Raya tidak terlepas dari proses kapitalisasi dimana pemerintah dimodali oleh para kapitalis (ataupun sebaliknya) dengan maksud menguasai sumber daya, mengeksploitasinya demi penumpukan untung berlipat ganda. Proses itu memungkinkan adanya formasi kelas yaitu kelas kapitalis di lapisan atas dan proletar di lapisan bawa. Formasi itu secara otomatis menciptakan penindasan terhadap masyarakat dalam berbagai bentuk.

Pembangunan Pariwisata belakangan ini menjadi tranding topik dengan mengusung konsep interaksi antara alam, budaya, dan masyarakat lokal. Salah satu jenis pariwisata alternatif yang kini digandrungi adalah desa wisata.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan bahwa desa wisata atau rural tourism tengah menjadi tren pariwisata di dunia saat ini. Desa wisata, kata dia, memberikan pengunjung pengalaman liburan yang lebih unik dan baru.

Guna memperkuat pengembangan desa wisata, Kemenparekraf/Baparekraf juga melakukan kolaborasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Kemendes PDTT bertindak untuk mendorong infrastruktur dari sebuah desa wisata. Sementara, Kemenparekraf/Baparekraf katanya berperan untuk mengembangkan sumber daya manusia, serta sarana prasarana terkait pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata tersebut.

BACA JUGA :  Pariwisata dan Potret Kelam Petani Manggarai Timur

Atas dasar itu, sebagian desa di Indonesia termasuk di NTT, lebih khususnya di Manggarai Raya menjadi target dan sasaran proyek pembangunan itu. Kemenparekraf/Baparekraf menargetkan pada 2024 akan ada 244 desa wisata yang telah tersertifikasi sebagai desa wisata mandiri.

Dari data yang dihimpun Penulis, di Manggarai Raya sendiri terdapat 70-an desa menjadi target program Desa Wisata Kemenparekraf/Baparekraf. Potensi Wisata paling banyak terdapat di Kabupaten Manggarai Barat dengan jumlah 68 Desa diikuti oleh Manggarai dan Manggarai Timur dengan jumlah 5 Desa.

Klaim Pengentasan Kemiskinan

Menurut Menparekraf Sandiaga Uno, desa wisata di Indonesia punya potensi besar untuk menyumbang pendapatan negara.
Menparekraf Sandiaga Uno juga menyebutkan, 15% dari total kapasitas amenitas Eropa berada di desa wisata yang berkelanjutan. Begitu juga dengan serapan tenaga kerja, desa wisata diklaim memiliki kontribusi yang besar untuk mengatasi masalah pengangguran dan pengentasan kemiskinan.

Sejak Dahulu, akar kemiskinan di NTT khususnya Manggarai Raya adalah proses-proses politik dan ekonomi pembangunan yang membawa serta eksploitasi, marginalisasi, ketakberdayaan (powermlessness), imperialisme kultural dan kekerasan dalam berbagai bentuknya. Semua itu terjadi, justru karena praktek kuasa hegemonik dalam dan melalui pembangunan.

Di tengah semarak pembangunan, NTT khususnya Manggarai Raya tetap tinggal dengan Nasib Tidak Tentu dan terus mencoba untuk optimis dalam harapan Nanti Tuhan Tolong. Ketika pembangunan dan demokrasi dengan seluruh janji surga yang diobral penguasa tidak mampu memperbaiki kesejahteraan umum di NTT, ketika elit politik dan ekonomi menopang kuasa mereka dengan ketidakadilan, ketika Negara secara beruntun gagal memenuhi janji keadilan sosial bagi seluruh rakyat, maka orang terpaksa menunggu uluran tangan dewa penolong karena tak lagi mampu menanggung kesulitan hidup, karena pembangunan dan politik tak kunjung berhenti menjadi mesin eksploitasi, marginalisasi, dan kekerasan dalam berbagai bentuk. (Cypri Jehan Pajudale;2013)

BACA JUGA :  FLORES THE SINGING ISLAND: ARTIFISIAL ATAU SUBSTANSIAL ? (Bagian II)

Para elit politik dan elit ekonomi termasuk investor menggengam kuasa meraup untung, sementara rakyat kebanyakan masih harus bergulat dengan persoalan-persoalan bagaimana untuk sekadar bertahan hidup di tengah bermacam-macam kesulitan.

Untuk itu, gerakan-gerakan kesadaran melawan tambang, mengkritisi investasi pariwisata dan gerakan ekonomi kerakyatan adalah cara kita melawan kuasa pembangunan yang mengatasnamakan pengentasan kemiskinan. Pelaku intinya adalah masyarakat adat, kaum muda, intelektual, koperasi, komunitas agama, gerakan perempuan dan lain sebagainnya. NTT khususnya Manggarai Raya sedang melahirkan harapan perubahan.

Penulis adalah Pimpinan Umum Media Flores News. Tinggal di Waerana Kota Komba.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Terima kasih pa nardy ikut memberikan desa wisata semua memberikan semangat pada masyarakat setempat untuk berinisiatif membangun pariwisata menyiapkan usaha jasa pariwisata di desanya sendiri.

  2. saya juga turut memprihatinkan atas sistem yg dibuat oleh penguasa sekarang kawanku memang yg kita lihat selama ini jga desa program desa wisata manggarai disatu sisikan memang ada keuntungan. tetapi jikalau kita mampu mengritisi hal tersebut bahwa jelas” program semacam itu diproduk oleh para kapitalis yg dalam hal ini untuk mengekspansi kekayaan mereka( keuntungan). masalah ini sebenarnya hal yang paling berbahaya karena justru akan melahirkan kesenjangan yg baru dimasyarakat manggarai nantinya seperti yg disampain kawan tadi dalam redaksinya diatas. Untuk itu mari kita saling mendukung dalam membangun kesadaran masyarakat yg nota bene belum paham dgn situasi sekarang dan sekaligus menjalankan fungsi kita sebagai pengontrol unk membawa perubahan😊

News Feed