oleh

Pariwisata dan Potret Kelam Petani Manggarai Timur

-Opini-190 views

Oleh: Nardi Jaya

FLORESNEWS.id, OPINI-Pintu pariwisata semakin terbuka lebar. Akan tetapi, sektor pertanian dan peternakan di Manggarai Timur rupanya belum berkembang signifikan. Belum ada respon positif untuk memanfaatkan peluang pertanian yang tercipta berkat pertumbuhan pariwisata itu.

Penulis berhasil mewawancarai beberapa pedagang sayur, ikan dan ayam di Pasar Borong pada Kamis 14 Oktober 2021. Mayoritas pedagang menyebutkan bahwa ketersediaan bahan dagangan mereka berasal dari luar Manggarai Timur.

Pedagang ayam misalnya. Mereka mengaku ayam yang dijual di pasar Borong berasal dari Boawae, Kabupaten Nagekeo. Demikian pula sayur-sayuran dibawa dari Aimere dan Bejawa Kabupaten Ngada. Sementara ikan kadang didatangkan dari Reo dan Maumere, karena ketersediaan ikan Borong tidak terlalu banyak.

Kendati lahan pertanian luas dan iklim cocok, hampir tidak ada produk unggulan yang dijual dan didatangkan dari petani lokal Manggarai Timur. Siapa yang salah ? Dan mengapa ini bisa terjadi ?

Tuduhan bahwa petani lokal malas bekerja atau tidak memiliki kapasitas budidaya sulit dibuktikan kebenarannya. Petani kita pekerja keras dengan etos “duat gula, Wee Mane”, “dempul wuku tela Toni”. keterampilan bertani bukan hal baru bagi petani. Soal peningkatan kapasitas, Dinas Pertanian, peternakan dan ketahanan pangan memiliki program pelatihan yang menghabiskan anggaran setiap tahun. (Cypri Jehan Pajudale;2013.).

Beberapa fakta yang ditemukan penulis terkait permasalahan tersebut antara lain, minimnya pendampingan dinas terkait sehingga penerapan pertanian atau peternakan masih bersifat tradisional yang pada dasarnya seringkali tergantung pada hasil panen untuk sebatas dikonsumsi sendiri.

Fakta lain, dikutip dari Buku karya Jehan Paju Dale yang berjudul Kuasa, Pembangunan dan Pemiskinan Sistemik menjelaskan bahwa petani kita saat ini sudah bergantung pada input dari luar seperti pupuk, pestisida kimia serta tidak tersedianya benih yang bermutu. Hal itu diperparah dengan mulai musnahnya benih-benih lokal. Input-input kimia bikinan pabrik tidak saja dipromosikan dan diperdagangkan oleh pedagang-pedagang cina. Tetapi juga terdistribusi lewat program-program subsidi pemerintah.

BACA JUGA :  Krisis Energi Dunia Tahun 2021

Benih-benih yang dijual umum pun memiliki kualitas rendah, tanpa kontrol yang masif dari pemerintah dan tidak ada mekanisme komplain ganti rugi petani. Persoalan ini menempatkan petani pada posisi rentan.

Faktor lain adalah ketersediaan akses seperti infrastruktur jalan lintas pedesaan di Manggarai Timur yang belum memadai. Hal tersebut membuat para petani cenderung menjual hasil buminya kepada para tengkulak di desa ketimbang datang berjualan di pasar yang menghabiskan anggaran (sewa mobil dan makan) tidak sedikit.

Program Desa Wisata

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, saat ini mengusung konsep desa wisata. Desa wisata menawarkan pariwisata interaksi antara alam, budaya, dan masyarakat lokal.

Menurut  Dia, desa wisata atau rural tourism tengah menjadi tren pariwisata di dunia saat ini. Desa wisata memberikan pengunjung pengalaman liburan yang lebih unik dan baru.

Pengelolaan desa wisata di Indonesia merupakan bagian dari program pengembangan pariwisata berkelanjutan. Program ini sesuai dengan RPJMN 2020-2024, dalam rangka percepatan kebangkitan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi nasional. Melihat urgensi tersebut, pemerintah melalui Kemenparekraf/Baparekraf terjun langsung untuk mengelola Desa Wisata.

Di Manggarai Timur sendiri, terdapat Lima desa yang saat ini digandrungi program tersebut antara lain, Desa Colol dengan agrowisata kopi dan atraksi wisata budaya.
Berikutnya, Desa Wisata Golo Loni dengan wisata buatan Golo Depet, river tubing, wisata pertanian, dan pesona Danau Rana Mese.

Selanjutnya, Desa Wisata Compang Ndejing dengan potensi utama wisata pantai, aktivitas nelayan, dan aktivitas pertanian seperti pengolahan sawah secara tradisional). Ada juga Desa Wisata Bamo yang menyajikan atraksi seni budaya tarian vera, ritual adat kebhu, perkemahan di sabana Nanga Rawa, wisata pantai, dan aktivitas nelayan. Terakhir, Desa Wisata Nanga Mbaur dengan wisata pantai, pengamatan satwa langka buaya darat (rugu) atau komodo, dan atraksi pertanian masyarakat lokal.

BACA JUGA :  Menilik Kondisi Pendidikan Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Lagi-lagi penulis menilai, pembangunan melalui program desa wisata tidak memberikan dampak signifikan untuk kesejahteraan masyarakat. Program tersebut tidak lebih dari propaganda pemerintah dan sarat dengan kepentingan para pemodal alias Kapitalisme.

Penulis berpendapat bahwa sektor wisata adalah dampak dari ketiga sektor utama yakni pertanian, peternakan dan perikanan. Jika ketiga sektor utama tersebut menjadi prioritas, maka secara otomatis pariwisata akan maju dan berkembang dengan sendirinya. Tetapi jika tidak diperhatikan atau ketersediaannya bergantung dari luar Manggarai Timur, maka  yang terjadi adalah ekslusi, marginalisasi, eksploitasi dan repsesi akibat praktik kuasa melalui pembangunan-pembangunan itu. (*)

Penulis adalah Pemimpin Umum Media Flores News. Berkantor di Waereca, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong. Tinggal di Waerana Kota Komba.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed