oleh

Mutasi Kepsek Penggerak, Dinas PPO Matim Diduga Biang Kerok Polemik di SDK Paundoa

FLORESNEWS.id, Manggarai Timur-Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur diduga menjadi biang kerok polemik di SDK Paundoa, Kecamatan Kota Komba. Pasalnya, Kepala SDK Paundoa, Bertolodus Pan yang merupakan Kepsek penggerak dimutasi ke SDN Sare. Padahal dalam aturannya Kepsek penggerak tidak boleh dimutasi atau diganti selama 4 tahun.

Ditemui Flores News, Senin (18/10/2021), Bertolodus Fan menceritakan awal mula keputusan yang menciptakan perseteruan antara dirinya dengan Kepala  SDN Sare.

“Pada tanggal 15 September 2021 Kepala SDN Sare yang bernama Kristo Selek mendatangi rumah saya. Tujuan kedatangannya untuk menyampaikan informasi dari pihak Dinas PPO Matim terkait SK pertukaran posisi kepsek. Pada kesempatan itu juga, Kristo Selek meminta saya untuk tetap menjadi kepsek di SDK Paundoa dan dirinya tetap di Sekolah yang dipimpinnya,” kisah Berto.

Kemudian, keesokan harinya Ia bersama Kristo Selek mendatangi Kantor Dinas PPO Matim untuk menerima SK bersama empat puluh orang kepsek lainnya.

“Saya begitu kaget karena keputusan SK tersebut menerangkan saya angkat kaki dari SDK Paundoa. Saya tidak menerima SK tersebut dengan alasan kalau saya adalah Kepala Sekolah Penggerak,” ujarnya.

Pada tanggal 16 September, lanjut Dia, pembagian SK di Kantor Dinas PPO. Saya tetap berpendirian untuk tidak menerima SK, sedangkan pa Kristo Selek menerima SK sebagai Kepsek di SDK Paundoa.

“Pada kesempatan itu, di hadapan Kadis PPO Matim (Basilius Teto) Kabid SD meminta pengertian dari Kristo Selek agar memahami aturan sekolah penggerak dan mempertimbangkan SK yang ia terima,” jelasnya.

Namun, lanjut Bertolodus, Kristo Selek tidak mengindahkan permintaan tersebut. Ia akan berkantor di SDK Paundoa, dengan alasan tetap merujuk pada SK yang baru ia terima.

BACA JUGA :  Jadi Plt Kadis, Frans Gero Berkomitmen Tata Sistem Pendidikan di Manggarai

“Pada kesempatan itu, Kristo Selek tetap berpendirian untuk berkantor di SDK Paundoa sampai pada bulan Desember mendatang, dan setelah itu akan kembali lagi ke SDN Sare. Saya langsung membantah, karena saya tidak bisa menjalankan administrasi sekolah penggerak, sementara saya sudah berada di sekolah berbeda,” ucapnya.

Ironisnya, pada kesempatan itu juga, Basilius Teto, Kepala Dinas PPO Matim memintanya untuk tetap menerima SK dan menjalankan tugas selama beberapa hari. Kemudian, setelah itu dirinya bisa mengajukan keberatan kepada Bupati dengan alasan menjalankan sekolah penggerak dan tembusan kepada Dinas PPO Matim.

Kendati mendapat tawaran demikian, Bertolodus tetap berpegang teguh pada pendiriannya. dengan alasan bahwa  program Sekolah Penggerak adalah program dari Kementerian.

“Dinas PPO Matim sudah tahu kalau SDK Paundoa lulus sebagai sekolah penggerak. Tapi kok aneh, kenapa harus saya yang ajukan permohonan kepada Bupati? Seharusnya Dinas PPO Matim yang membuat surat permohonan kepada Bupati, karena mungkin ada kekeliruan dalam penetapan SK,” tegasnya.

Beberapa hari setelah itu, ketua  komite, lima orang tua Siswa SDK Paundoa dan tiga orang guru mendatangi Kepala Dinas PPO Matim.

“Pada tanggal 20 September, mereka menyampaikan keberatan kepada Basilius Teto terkait mutasi kepala sekolah penggerak. Pada saat itu, Kadis PPO Matim mengaku akan menganulir SK yang sudah ditetapkan,” katanya.

Kemudian, empat hari setelah itu pihak Dinas PPO Matim mendatangi SDK Paundoa dengan tujuan untuk memediasi persoalan tersebut. Namun anehnya, terlebih dahulu mereka mendatangi kediaman Kristo Selek, dan beberapa jam setelah itu sampai ke SDK Paundoa untuk melaporkan hasil diskusi bersama Kristo Selek.

“Tanggal 24 September mereka datang ke sini. Sesuai laporan mereka, Kristo Selek bersedia untuk kembali ke SDN Sare dan secepatnya SK akan dia antar ke Dinas PPO Matim,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Warga Kota Komba Utara Tagih Janji Bupati Agas

Keesokan pagi, ia dikejutkan dengan informasi yang disampaikan Kabid SD. Dalam penyampaian itu, Kabid SD meminta dirinya untuk sementara waktu berkantor di rumah karena pihak sebelah (Kristo Selek) berencana membawa masa ke SDK Paundoa.

“Pada tanggal 25 September, Kabid SD telepon saya. Dia minta saya untuk berkantor di rumah karena Kristo Selek rencana undang masa ke SDK Paundoa untuk bertindak brutal. Beberapa hari setelah itu, Kristo Selek ke SDK Paundoa dan membawa SK tapi saya tidak berada di sekolah. Ia berpesan pada guru-guru meminta saya ke rumahnya untuk menyelesaikan persoalan tersebut, tapi saya tidak mengamini permintaannya,” ucap Bertolodus.

Dirinya berharap, Dinas PPO Matim segera memangil Kristo Selek dan mengembalikan SK-nya ke SDN Sare.

“Sampai saat ini saya tetap berkantor di rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Saya minta Kadis PPO Matim segera menyelesaikan persoalan ini supaya tidak menimbulkan polemik yang berkepanjangan,” pintanya.

Pernyataan Kristo Selek

Flores News berhasil mewawancarai Kristo Selek melalui sambungan telepon. Dirinya mengaku tidak berkeberatan jika dikembalikan ke SDN Sare.

“Waktu terima SK beberapa waktu lalu, di hadapan Kadis PPO Matim saya menyanggupi menjalankan SK baru. Setelah itu, jika sudah ada kesepakatan antara saya dengan Bertolodus Fan untuk kembali bertugas ke sekolah masing-masing, langkah selanjutnya kami sama-sama ke Dinas PPO Matim,” jelasnya.

Menurut Kristo Selek, Ia merasa disakiti lantaran Bertolodus Fan mengerahkan masa ke Dinas PPO Matim beberapa hari setelah menerima SK.

“Yang saya sakit hati sampai saat ini, dia bawa masa ke Dinas PPO Matim. Saya merasa kurang hati. Kenapa pa Bertolodus Fan yang masih berstatus adik bisa seperti itu?,” tanya Kristo Selek.

BACA JUGA :  Diduga Mabuk Miras, Kades di Matim Ancam Bunuh Anak 12 Tahun

Sampai saat ini, ia masih berkantor seperti biasa di SDK Paundoa karena ia masih memegang SK asli.

“Sampai saat ini saya masih memegang SK asli. Untuk itu, saya seperti biasa berkantor di SDK Paundoa,” tegasnya.

Ketika ditanya terkait informasi ancaman kekerasan fisik terhadap Bertolodus Fan, Ia mengaku, kalau informasi itu tidak benar.

“Dia saya punya adik. Mari datang ke rumah kita selesaikan. Selama ini saya juga sangat rindu ketemu dengan dia, tapi selama ini dia tidak pernah mau ketemu dengan saya,” pungkasnya.

Penjelasan Kadis PPO Matim

Sementara itu, Basilius Teto, Kepala Dinas PPO Matim saat dikonfirmasi media ini mengklaim bahwa persoalan itu sudah selesai.

“Tidak ada masalah. Persoalan itu sudah selesai. SK mutasi kemarin itu dibatalkan,” ucapnya.

Menurutnya, SK yang dikeluarkan pada tanggal 16 September 2021 itu sudah ditarik kembali. Dan ia sudah meminta Kristo Selek untuk kembali ke SDN Sare.

“SK itu sudah ditarik kembali. Dan baru-baru ini saya sudah panggil Kristo Selek. Ia juga legowo dan mau kembali menjadi Kepala Sekolah di SDN Sare,” pungkasnya. (Risno Ando)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed