oleh

Sektor Pertanian Dianaktirikan, Manggarai Timur Kualat

-Opini-100 views

(Catatan Redaksi Akhir Bulan)

REDAKSI, FLORESNEWS.ID–Selama sebulan ini, tentu kita telah membaca, melihat dan mendengar berbagai persoalan sosial di sekitar kita. Wajar, bila masyarakat memang berhak mengetahui semua informasi. Kepuasan pembaca (pemirsa) adalah kepuasan media. Amanah dan marwah sebuah media, ketika berjalan bersama masyarakat demi kemajuan bersama.  Karena itu, media membutuhkan keterlibatan masyarakat. Banyak peristiwa, silih berganti antara gembira dan sedih. Ada musibah bencana, baik bencana pandemi Covid19, bencana alam, sosial, politik, ekonomi, hukum maupun keamanan. Gunjingan paling populer dan tak kalah santer menyedot perhatian kita, adalah isu kemiskinan ekstrim yang menimpa lima kabupaten di NTT. Antara lain, kabupaten Manggarai Timur, Sumba Timur, Sumba Tengah, Rote Ndao, dan Timor Tengah Selatan. Pembaca meragukan, Manggarai Timur disebut satu-satunya kabupaten paling miskin sedaratan Flores. Isu ini memancing diskusi pro-kontra, aksi dan reaksi hampir semua kalangan yang  berkepentingan.

Pembaca FN yang budiman...

Pertanyaan paling tepat untuk menyikapi peristiwa kemiskinan ekstrim, adalah: apa yang kita buat? Adakah solusi terbaik untuk menurunkan jumlah angka kemiskinan dan menaikkan pendapatan perkapita serta meningkatkan kualitas sumber daya insani Manusia Matim? Bagaimana seluruh elemen masyarakat bisa digerakkan secara terpadu dan terintegrasi secara sistematis? Siapakah yang harus dilibatkan sebagai ujung tombak dan garda terdepan untuk mengerjakan PR yang tertinggal ini? Apa program strategis yang sejalan dengan visi-misi bupati dan wakil bupati yang mesti segera kita garap bersama? Untuk melihat keseriusan, tekad keberpihakan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan ekstrim ini, kita cek dulu kebijakan (regulasi), program kerja dan alokasi anggaran belanja publiknya. Jangan-jangan alokasi anggaran belanja pegawai lebih besar, ketimbang belanja publik? Amat sedih dan ironis lagi, pada moment HUT Kabupaten (23/11/2021), malah DPRD Matim meminta kado 3 unit mobil baru seharga 1,5 miliyard? Persis di tengah upaya penanganan krisis kemiskinan ekstrim!

Upaya menemukan solusi yang tepat, ada lagi kenyataan paradoksal, bahkan membelit rasionalitas nalar kita. Kenyataan ini memancing diskusi publik dan tanggapan viral para netizen. Mengapa isu pembangunan di bidang pariwisata, malah dikampanyekan secara masif di mana-mana. Baik oleh pemerintah, media, akademisi, para aktivis LSM (NGO) maupun kelompok wirausaha, seniman, dan komunitas kreatif, dst. Pariwisata diprioritaskan pada tingkat super premium. Isu pariwisata justru jadi trending topic yang viral dari hari ke hari. Pariwisata jadi leading sector yang diprioritaskan. Seolah-olah kemajuan sektor pariwisata bakal menjawabi semua persoalan kemiskinan ekstrim NTT.  Sebagian besar anggaran daerah, toh nantinya akan dialokasikan untuk bangun infrastruktur pariwisata demi melayani kepentingan wisatawan. Rakyat hanya menanti tirisan sebagai efek samping dari pembangunan megaproyek pariwisata itu (trickle down effect). Padahal kita tahu, bahwa sektor pariwisata adalah pintu masuk bagi ekspansi politik global untuk menguasai energi dan sumber daya alam dunia. Permainan licik Multinational Corporation (MNC) atau korporatokrasi transnasional, selaku pemilik modal dunia inilah yang mensponsori pariwisata global. Para kepala daerah hanya menjalankan “pesan sponsor” global, sehingga pariwisata menjadi viral mendunia. Diprioritaskan jadi leading sector, trending topik dan super premium. Apa manfaat nilai dan keuntungannya bagi masyarakat kecil di pelosok pedesaan kita? 

BACA JUGA :  Pariwisata dan Potret Kelam Petani Manggarai Timur

Pembaca FN yang budiman...

Mengapa bukan sektor pertanian yang menjadi leading sector? Mengapa bidang pertanian tidak dikampanyekan secara masif. Tidak viral sebagai trending topik. Tidak gencar diwacanakan sebagai program prioritas. Mengapa pertanian dianaktirikan? Padahal karakteristik wilayah Matim, memiliki kepadatan agraris yang sangat tinggi. Artinya, ciri utama masyarakatnya berbudaya agraris. Mata pencaharian masyarakat umumnya, 90% bertani. Ketrampilan dasar masyarakat adalah bercocok tanam, beternak, dan nelayan. Dengan demikian, ketrampilan bercocok-tanam akan diterima dengan gairah, mudah dikembangkan sampai ke pelosok pedesaan. Hasil produk pertanian akan lebih cepat menyentuh akar rumput untuk menjawabi kebutuhan dasar akan sandang, pangan dan papan. Budaya bertani komunal dengan kepandaian dasar bercocok tanam, juga sudah mendarah daging. Berbanding lurus dengan filosofi hidup: “na’ang bara, wengko weki.” Menurut orang Manggarai, urusan perut (makan-minum), tak dapat ditunda. Tak dapat ditolerir, atau ditawar-tawar. Sektor pertanian telah menjadi salah satu unsur pembentuk budaya bangsa dan penyeimbang ekosistem ekologis. Pengembangan sektor pertanian, sama artinya dengan mengupayakan pemerataan pembangunan, pengentasan kemiskinan, perbaikan pendapatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Hubertus Erik San: 2020). Selain terjaminnya ketersediaan pangan, juga meningkatnya penerimaan retribusi pasar yang dapat menghasilkan PAD dan devisa negara, tersedianya lapangan kerja, berkembangnya kemajuan desa dan menguatnya ketahanan ekonomi kerakyatan (Iskandar Andy Nuhung: 2012). Dalam ruang budaya bertani komunal Manggarai “gendangn one, lingkon pe’ang”, bahwa bercocok tanam dimaksud, adalah: 1) petani ladang (tanaman pangan, seperti: padi, jagung, ubi-ubian, dll); 2) petani tanaman perdagangan (komoditi tanaman umur panjang), dan; 3) petani hortikultura (Sayur-mayur dan buah-buahan).

Pembaca FN yang budiman

Kabupaten Manggarai Timur, bisa menjadi sentra produsen hortikultura. Karena didukung oleh potensi sumber daya alam, seperti; tingkat kesuburan tanah, pasokan air, keadaan cuaca (iklim), sumber daya petani, budaya masyarakat dan mestinya juga kebijakan pemerintah daerah serta alokasi anggaran belanja publik yang bersumber dari APBD maupun APBN. Kelompok tani (gapoktan), petani milenial, karangtaruna, ibu-ibu Dhasa wisma, dan kelompok Koperasi Tani yang telah berpengalaman membudidayakan sayur dan buah-buahan, terus diberdayakan untuk program hortikultura. Kelompok-kelompok yang dipercayakan untuk budidaya hortikultura ini bisa terkonsentrasi di beberapa desa, dibawah pengawasan dinas pertanian (PPL) yang bertugas di desa dan ditetapkan melalui SK pemerintah. Wilayah strategis bisa dijadikan desa contoh bagi produsen hortikultura. Terutama desa yang berpotensi sesuai kriteria sumber daya di atas. Selain itu, pemerintah daerah harus membuka kerja sama dengan daerah lain untuk magang dan studi banding, seperti Proyek Irigasi Tetes di Maumere. Bahkan petani irigasi tetes yang sukses belajar di Israel ini, bisa diundang sebagai mentor bagi petani hortikultura pada program Simantri di Matim. Program ini bisa digerakkan secara terpadu, yang disebut dengan Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri). Heribertus Erik San, dalam studinya tentang Model Pembangunan Pertanian Hortikultura, menggambarkan, bahwa Program “Simantri” ini telah dijalankan oleh propinsi Bali sejak tahun 2008-2013 dan masih dilanjutkan hingga sekarang. Langkah propinsi Bali ini, diadopsi oleh Kabupaten Manggarai pada periode 2016-2021 sejak masa Deno Madur (DM).

BACA JUGA :  Natal Berdarah di NTT, Istri Mati Ditebas, Suami Sekarat

Berbicara soal isu Program Simantri di bidang pertanian hortikultura, menurut Erik San, Dinas Pertanian lebih pantas jadi Leading Sector. Artinya, Dinas Pertanian berada pada posisi sentral yang menjadi penggerak sektor-sektor lain. Konsep Simantri menjadi gagasan unggul pemerintah daerah untuk menjalin sinergitas dan menggerakkan fungsi masing-masing sektor, sekaligus memberi dukungan efektif terhadap pergerakan lintas sektoral pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Misalkan, a) Dinas Pertanian berupaya mengadakan benih tanaman hortikultura, greenhouse, dan jaringan irigasi pengairan; b) Dinas Peternakan membantu berupa bibit ternak sapi dan babi serta kandang ternak; c) Dinas PUPR menyediakan berupa infrastruktur dan pengembangan jaringan irigasi pada lokasi Simantri; d) Dinas Perdagangan membantu dari sisi pasca panen, mencari peluang pasar dan pemasaran; e) Dinas Perhubungan menyediakan fasilitas kendaraan pengangkut produk pertanian ke pasar. (Erik San: 4-5).

Kegiatan utama kelompok tani Simantri, sebagaimana ditulis Erik San, adalah mengembangkan hortikultura sayur-sayuran dan buah-buahan, yang terintegrasi dengan kegiatan pendukung yaitu ternak babi dan sapi pada satu kawasan, menggunakan kandang bersama yang bertujuan untuk pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk bokasi. Model optimasi Simantri ini akan mengarahkan petani untuk memproduksi tanaman hortikultura dan ternak sekaligus secara efisien (Ibid: 4). Manggarai Timur bisa mengambil manfaat dalam bisnis sayur mayur dan buah-buahan di Daerah wisata Super Premium Labuan Bajo, yang selama ini mengharapkan pasokan dari NTB dan Sulawesi. Bahkan, berdasarkan kedekatan wilayah, kota destinasi wisata Super Premium, Labuan Bajo, akan lebih cepat mendapat dukungan produk yang masih baru dan segar. Dengan sendirinya, produk hortikultura Matim memiliki posisi tawar yang kuat, sekaligus membendung masuknya produk dari luar Manggarai raya.

BACA JUGA :  Fraksi Demokrat Kritik Pengangkatan 59 THL oleh Bupati Manggarai

Pembaca FN yang budiman…

Program Pertanian Simantri, tentu tidak mengabaikan petani pekebun, yakni program pertanian tanaman pangan dan tanaman perdagangan (komoditi). Misalnya, pengembangan proyek petani kopi yang sedang booming akhir-akhir ini di sekitar wilayah Colol. Colol di zaman Belanda (VOC), tepatnya sejak tahun 1920-an, sudah dikenal di Eropa sebagai daerah penghasil kopi berkualitas unggul. Saat itu, petani Colol pernah menjuarai lomba petani terbaik dan mendapat penghargaan sebuah bendera Belanda, yang masih tersimpan hingga sekarang. Akhir-akhir ini, beberapa sponsor mulai menggerakkan kelompok milenial untuk memberdayakan “Kopi Tuk” reak Colol. Yaitu memodernisasi cara pengelolaan kopi tumbuk tradisional anak Colol menjadi produk yang berkualitas di pasar global. Selain kopi, program Pertanian cengke, kakao, fanili, dan kemiri yang tersebar di sekitar wilayah Lambaleda, Rana Mese, Borong, Elar, Sambi rampas dan Kota Komba dikenal sebagai komoditi primadona. Sementara ternak Babi dan sapi akan mendominasi daerah-daerah pesisir. Soal teknis operasionalnya, pasti banyak tenaga ahli di daerah yang lebih pantas dan berkompeten dalam implementasikannya.

Efektivitas sebuah program, tidak terlepas dari rangkaian proses kebijakan yang dibuat untuk mengendalikan program dan kegiatan agar bisa berjalan lancar, sukses dan efisien. Rangkaian proses itu secara siklis berotasi tiap tahun, mulai dari; a) kajian dan analisis program; b) perumusan atau desain program; c) Implementasi program; d) Monitoring dan evaluasi program (pengawasan dan penilaian hasil, monev). Keempat tahapan proses ini berjalan tiap satu putaran tahun. Hasil kegiatan selama setahun, dilanjutkan dengan kajian dan analisis, disempurnakan lagi dengan desain baru, diimplementasi lagi, kemudian monitoring dan evaluasi, hingga lima tahun (satu periode). Program Simantri menjadi lebih matang dan semakin sempurna melalui pengalaman kerja lapangan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed